Deprecated: Creation of dynamic property Newkarma_Core_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/u945520211/domains/sin.co.id/public_html/sulteng/assets/plugins/newkarma-core/lib/breadcrumbs.php on line 87
oleh

Pesan Cokorda Raka untuk Anak Muda: Olahraga dan Pendidikan Harus Jalan Beriringan

SULTENG.SIN.CO.ID – Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir.

Hal itu disampaikan mantan atlet tim nasional (timnas) basket Indonesia yang kini berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, Cokorda Raka Satrya Wibawa.

Perjalanan di dunia basketnya terbilang tidak dimulai sejak usia dini. Saat duduk di bangku SD, ia sempat diperkenalkan dengan basket. Namun, ia baru benar-benar menekuni olahraga tersebut ketika duduk di kelas 3 SMP atau sekitar usia 14-15 tahun.

Sebelum serius di basket, ia telah mencoba berbagai cabang olahraga, mulai dari tenis, sepak bola, bulu tangkis hingga renang. Ia juga memiliki ketertarikan besar terhadap musik dan menguasai sejumlah alat musik seperti gitar, piano, keyboard, dan drum.

Bakat di basket kemudian semakin terlihat karena postur tubuhnya yang tinggi. Sang kakak bahkan mendorong pelatih untuk serius membina dirinya.

“Teman-teman saya waktu itu sudah jago-jago, sedangkan saya baru belajar. Dari mulai belajar lay-up sampai akhirnya terus berlatih,” ujarnya saat podcast di Kantor Kemenpora Senayan, Jakarta, Senin (31/8).

Baca Juga  Salam Komando BSI & KERIS Untuk Kemajuan Ekonomi Rakyat - Kesetiaan Gajah Mada Ke Raja Majapahit

Perjalanan panjang itu kemudian membawanya ke level profesional hingga timnas Indonesia. Salah satu momen paling berkesan terjadi saat memperkuat timnas basket Indonesia pada SEA Games 2001.

Saat itu, Indonesia meraih medali perak. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah basket Indonesia karena persaingan di kawasan Asia Tenggara sangat ketat.

“Setiap kemenangan pasti mengesankan. Tapi saat timnas Indonesia di SEA Games 2001 mendapat medali perak, saya kebetulan ada di tim itu. Itu menjadi salah satu momen sejarah basket Indonesia,” kata pria 205 cm ini.

Di tengah kesibukannya sebagai atlet, ia juga tetap menjalani pendidikan. Baginya, atlet memiliki masa karier yang terbatas sehingga harus mempersiapkan kehidupan setelah pensiun.

“Olahraga prestasi, baik sebagai pelatih maupun atlet, umurnya tidak panjang, terutama atlet. Setelah tidak menjadi atlet, kita mau jadi apa? Kalau punya latar belakang pendidikan yang bagus, masih ada modal untuk terjun ke kehidupan berikutnya,” tutur mantan atlet timnas basket asal Bali ini.

Baca Juga  Muzani Targetkan Prabowo-Gibran Menang 60 persen di Jawa Barat

Ia mengaku pernah menghadapi situasi sulit ketika jadwal pertandingan berbarengan dengan ujian. Namun, kondisi tersebut disiasati dengan manajemen waktu yang baik, tegas dan berani.

Ia bahkan pernah menjalani ujian di pagi hari sebelum berangkat ke Solo untuk bertanding pada malam harinya. Situasi serupa terjadi ketika timnas bertanding di Singapura. Ia mengikuti ujian terlebih dahulu sebelum menyusul rekan-rekannya ke lokasi pertandingan.

Menurutnya, dukungan dari lingkungan juga sangat penting. Orang tuanya yang berlatar belakang akademisi selalu mendorong agar pendidikan dan olahraga dapat dijalani secara bersamaan.

“Kalau bisa jalan dua-duanya, kenapa enggak. Mereka juga yakin saya bisa,” ujarnya.

Kini, ia melihat kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan prestasi olahraga sekaligus pendidikan semakin terbuka.

Menurutnya, berbagai program beasiswa olahraga di jenjang pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, dapat menjadi peluang bagi atlet muda untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

“Olahraga itu salah satu jalan untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Sekarang sebenarnya lebih mudah dibanding zaman dulu. Apalagi di era digital, informasi lebih mudah didapat,” katanya.

Baca Juga  Soroti penyelewengan dana CSR, Universitas Jayabaya gelar FGD internasional bahas penguatan tata kelola

Setelah menjadi ASN Kemenpora melalui jalur prestasi, ia juga melihat adanya kesempatan untuk tetap berkontribusi di dunia olahraga sekaligus menjalankan tugas sebagai aparatur negara.

Ia mengakui terdapat perbedaan antara kehidupan atlet dan birokrasi. Jika sebagai atlet dirinya lebih banyak mendapatkan pelayanan untuk mendukung prestasi, sebagai ASN ia justru dituntut memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Kalau di atlet profesional kita dilayani. Kalau di birokrasi, kita melayani,” ujarnya.

Baginya, kunci menjalani berbagai peran tersebut adalah disiplin dan kemampuan beradaptasi. “Keep moving forward. Semua pasti ada halangannya. Kita harus beradaptasi dan mencari jalan untuk mengatasinya,” katanya.

Ia juga berpesan kepada anak muda yang ingin menekuni olahraga agar tidak takut mengejar prestasi sekaligus pendidikan.

“Kekalahan itu pasti ada, apalagi sebagai atlet. Kekalahan memang pukulan berat, tetapi masih ada hari esok yang harus kita lalui dengan memperbaikinya. Kekalahan itu hanya satu langkah lagi menuju kemenangan,” pungkasnya.(***)

News Feed