Deprecated: Creation of dynamic property Newkarma_Core_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/u945520211/domains/sin.co.id/public_html/sulteng/assets/plugins/newkarma-core/lib/breadcrumbs.php on line 87
oleh

Enam Agama, Satu Kampus: Merawat Toleransi di IABN Sriwijaya Tangerang

SULTENG.SIN.CO.ID – Alunan musik Gending Sriwijaya mengiringi gerak penari yang tampil di hadapan para tamu. Nyanyian menggema, menyambut sebuah momentum penting bagi Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang. Beragam kesenian ditampilkan, menghadirkan suasana perayaan peluncuran IABN Sriwijaya Tangerang yang penuh warna.

Namun, ternyata ada hal yang lebih menarik daripada pertunjukan seni itu sendiri, mereka yang tampil ternyata berasal dari latar belakang yang berbeda. Tidak hanya suku, ras, namun juga agamanya.

Di kampus yang identik dengan pendidikan agama Buddha ini, keberagaman justru menjadi bagian dari keseharian. Para mahasiswa tidak hanya datang dari berbagai daerah dan suku, tetapi juga memeluk enam agama yang diakui di Indonesia. Mereka belajar di ruang kelas yang sama, berkawan dalam keseharian, dan bersama-sama menampilkan kekayaan budaya masing-masing.

Pemandangan itu terasa semakin bermakna ketika doa bersama dipanjatkan oleh para dosen. Mereka yang memanjatkan doa juga datang dari latar belakang agama yang beragam. Perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan bagian dari kehidupan akademik yang berjalan berdampingan.

Hari itu, peluncuran kampus bukan sekadar penanda perkembangan sebuah perguruan tinggi keagamaan. Lebih dari itu, momentum tersebut memperlihatkan bagaimana inklusivitas dapat hadir dalam praktik nyata, melalui interaksi sederhana di antara orang-orang yang berbeda keyakinan.

Menemukan Indonesia di Ruang Kelas

Bagi Nasya, mahasiswa Program Studi Bisnis dan Manajemen Buddha yang beragama Islam, berkuliah di IABN Sriwijaya Tangerang menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus membuka wawasan baru.

Tumbuh di lingkungan Islam sejak kecil, Nasya kini memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dengan keyakinan yang beragam. Kampus menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai agama, suku, dan daerah di Indonesia.

Baca Juga  Bansos Tetap Jalan, Untuk Vaksin Muhadjir Pastikan Kajian Telah Selesai

“Dari kecil saya berada di lingkungan Islam. Di sini, saya bisa mengenal banyak agama, suku, dan budaya, juga teman-teman dari berbagai daerah,” tuturnya.

Pengalaman serupa dirasakan Alina, mahasiswa Program Studi Pendidikan Konseling Buddha yang beragama Kristen. Bagi Lin sapaan akrabnya, nama sebuah institusi tidak membatasi kesempatan seseorang untuk belajar dan tumbuh bersama orang lain yang berbeda keyakinan.

“Meski namanya Institut Agama Buddha, di sini kita bisa mengenal berbagai ras, suku, dan agama. Toleransinya sangat kuat, dan orang-orangnya juga sangat baik,” ungkapnya.

Menurt Lin, keberagaman bukan sekadar sesuatu yang dipelajari melalui buku atau diskusi di ruang kuliah. Ia mengalaminya secara langsung melalui pertemanan dan kehidupan sehari-hari di kampus.

Tak hanya di Kampus, kehidupan di asrama juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Elfriana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang beragama Katolik. Tinggal bersama mahasiswa lain membuat keberagaman bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan pribadinya.

Menurut Elfriana, kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Fasilitas peribadatan disediakan sehingga mahasiswa dapat menjalankan kehidupan akademik tanpa kehilangan ruang untuk menjalankan kewajiban agamanya.

“Karena saya tinggal di asrama, kami punya tempat masing-masing untuk beribadah. Teman-teman Muslim punya Musola, teman-teman Buddha punya Dhammasala-nya (Aula Buddhis), dan teman-teman Kristen dan Katolik juga punya ruang khusus. Jadi, menurut saya, ini luar biasa,” ujarnya.

Fasilitas tersebut bukan hanya persoalan ketersediaan ruang. Lebih jauh, hal itu mencerminkan pengakuan terhadap hak setiap mahasiswa untuk menjalankan keyakinannya dengan nyaman.

Baca Juga  2 Tahun Asta Cita, Kemenag Perluas Akses Pendidikan dan Tingkatkan Kesejahteraan Pendidik

Hal serupa dirasakan Ni Made, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Buddha yang beragama Hindu. Ia mengaku merasa dihargai oleh teman-teman, pegawai, maupun dosen di lingkungan kampus. “Saya sangat dihargai di sini. Teman-teman, pegawai, dan dosen sangat mengayomi kami yang non-Buddha, baik melalui perilaku maupun sikap mereka,” katanya.

Sementara Lauren Helfina Putri, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Buddha yang beragama Khonghucu, keberagaman di kampus ini sempat menjadi kejutan tersendiri.

Awalnya, ia tidak menyangka akan menemukan mahasiswa dari enam agama dalam satu institusi pendidikan yang bernama Institut Agama Buddha. Namun, seiring waktu, keterkejutan itu berubah menjadi kesempatan untuk mengenal keyakinan yang sebelumnya belum banyak ia ketahui.

“Saya awalnya terkejut karena ternyata ada enam agama di sini. Akhirnya, kami bisa saling mengenal dan mengeksplorasi agama-agama yang sebelumnya belum saya ketahui,” tuturnya.

Sementara itu, Arnico Fidya Putra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Konseling Buddha, melihat keberagaman tersebut sebagai pengalaman yang luar biasa. Mahasiswa dari berbagai daerah, kepercayaan, dan agama dapat menjalani pendidikan bersama tanpa harus mempertentangkan perbedaan mereka.

“Luar biasa bisa kuliah di sini. Kami berasal dari berbagai daerah, kepercayaan, dan agama, tetapi bisa bersama-sama dan berdampingan dengan rukun,” ungkapnya.

Enam mahasiswa, enam pengalaman, dan satu kesamaan, yaitu mereka menemukan ruang untuk belajar bersama tanpa harus meninggalkan identitas masing-masing.

Inklusivitas Bukan Sekadar Teori

Rektor IABN Sriwijaya Tangerang, Edi Rama Wijaya Putera, menegaskan bahwa keberagaman yang hidup di kampus merupakan bagian dari komitmen institusi untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif.

Baca Juga  Penurunan Kematian Bayi  di Indonesia Menjadi Contoh di Konferensi Tingkat Global di Madrid

Menurutnya, arahan Menteri Agama agar IABN menjadi ruang pendidikan yang terbuka tidak berhenti sebagai gagasan. Kampus berupaya mewujudkannya melalui komposisi sivitas akademika yang berasal dari beragam latar belakang agama.

“Sebagaimana arahan Menteri Agama RI, IABN ini merupakan pendidikan inklusif. Bukan hanya sekadar teori, tetapi kami membuktikannya. Sivitas akademika kami, mulai dari dosen, pegawai, hingga mahasiswa, berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan, keenam agama ada di kampus ini,” jelas Edi.

Keberagaman tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan keagamaan dapat memiliki cakrawala yang luas. Identitas keagamaan sebuah institusi tidak harus menjadi penghalang bagi mahasiswa dari agama lain untuk memperoleh pendidikan, membangun persahabatan, dan mengembangkan potensi diri.

Sebaliknya, kampus dapat menjadi tempat perjumpaan yang memperkaya pemahaman setiap orang tentang kehidupan berbangsa dan beragama.

Dalam ruang akademik seperti ini, toleransi bukan berarti menghapus perbedaan. Toleransi justru tumbuh ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk mempertahankan keyakinannya, sekaligus menghormati hak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa masyarakat Tangerang, khususnya kawasan Serpong, patut bersyukur atas kehadiran IABN Sriwijaya Tangerang. Meski merupakan perguruan tinggi negeri dengan identitas pendidikan agama Buddha, kampus ini terbuka bagi umat agama lain.

Menteri Agama juga menyoroti fasilitas perpustakaan kampus yang dinilai sangat baik dan dapat diakses masyarakat luas sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita berharap kehadiran Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama di kawasan Tangerang dan sekitarnya,” tukasnya.(***)

 

News Feed